- DARAH MUDA -

Sebulan yang lalu, tepatnya setelah balik dari Liburan kecil di Malang bareng temen2, aku menjadi manusia yang disibukan akan kegiatan dunia. 10 hari aku mencoba untuk menacari pengalaman baru di dunia "pekerjaan" , bagaimana sulitnya mencari uang seperti yang orang katakan. Aku freelance di EO tempatku dulu magang, berangkt pagi pulang malam, untuk menjalankan sebuah acara, aku ditunjuk jadi SM alias stage manager. Jujur karena dari awal niatku adalah mencari pengalaman, jadi uang bukanlah patokan utama bagiku. Aku mencoba tahu diri pada saat itu, siapa aku minta digaji segini segitu di awal2 ?.  Yg hingga detik ini aku ingat adalah, aku bekerja sebaik mungkin yang aku bisa pada saat itu, karena Alhamdulillah menjalankan sebuah event sudah menjadi makanan sehari hariku di kampus. Aku sebagai perempuan yang tergolong "aktif" merasa baik2 saja dengan peekerjaanku pada saat itu, lelah2 asik kalo aku bilang. Well, tapi ternyata benar, dunia kerja berbeda dari duniaku di kampus. Ritme kerjanya, cara kordinasinya, lingkungan sosialnya dll. Yg jelas, disana banyak yang bisa aku syukuri, aku dipertemukan dengan banyak manusia2 baik, diberikan pembelajaran dan kesempatan2 yang awalnya tidak pernah terpikirkan olehku. Dibilang sempurna tidak juga, perasaan lelah, sedih,  marah, kecewa pasti tak luput dari pekerjaanku saat itu. Tidak ada pekerjaan yang enak terus saja . Dan karena aku tau, aku tidak akan bisa menghasilkan hasil kerja yg baik, jika perasaan2 buruku yang mengambil alih semuanya pada saat itu. Yang aku lakukan adalah berdamai, dan mengingat masih banyak sekali hal2 yang bisa aku syukuri disana. Dari kekurangan dan kelebihan disanalah aku banyak belajar. 

Disamping aku bekerja, aku tetap menjalankan beberapa tanggung jawabku di dalam organisasi yang aku geluti di kampus. Dan hell yeah, tanggung jawabku tergolong tidaklah mudah. Semua butuh berkordinasi padaku saat itu, aku tetap harus membalas pesan2 anggota2 ku untuk sekedar menayakan pendapat ato meminta persetujuanku dalam memutuskan sesuatu dan mau tak mau aku harus memecah pikiranku agar semua tetap bisa berjalan dengan baik. Semua terus kujalani seperti itu, dibilang sibuk, iya sibuk sekali rasanya. Ditanya cape, tentu jawabannya sudah jelas. Tapi semakin lama aku menjalani dan bertemu dengan banyak cerita2 manusia, aku merasa malu. Aku belom sehebat itu untuk bisa mengeluh, merasa seolah olah tugaskulah paling berat dan akulah yang paling merasa lelah. Banyak manusia di dunia ini yang mengorbankan waktu dan semua tenanganya tanpa kita tahu. Untuk alasan apapun itu. Bekerja keras untuk ekonomi keluarga atau hanya sekedar untuk eksistensi semata.

Berbicara tentang pengorbanan, adakah yang aku tinggalkan ketika aku bergelut dengan kesibukan duniaku pada saat itu ? Jelas ada, kau tau apa ? Keluarga dan Tuhanku. Keluarga yang saat aku dirumah hanya melihatku kelelahan karena seharian beraktifitas, Ibadah yang hanya seadanya karena agenda  kegiatanku yang terus berdatangan. Tuhan yang harusnya menjadi nomor satu bagiku, dan keluargaku setelahnya, malah kebalikan. Dunia dunia dan dunia saja yang aku prioritaskan, berkedok dengan alasan mencari pengalaman dan jati diri. Aku mencoba berbicara pada hati kecilku, apakah hidup seperti ini yang sebenarnya aku inginkan ? Dan jawabanya tentu bukan, karena aku sadar ketika aku ada di titik terendah dan ada pada saat2 terberatku bahkan ketika semua meninggalkanku. Tuhan dan keluargalah yang selalu akan menjadi tempatku untuk pulang. Betapa tidak adilnya aku, ketika sudah tahu bahwa mereka yang selalu ada untukku dan tidak akan meninggalkanku, malah kuberikan waktu dan pikiranku seadanya untuk mereka. 

Jangan berekspektasi, sekarang aku jadi rajin ibadah dan selalu berkumpul dengan keluarganya. Hmm doakan saja, well aku juga anak muda yang masih ingin mencoba ini dan itu, masih sering mebuat kesalahan dimana mana, hingga kemudian belajar, masih banyak pr ku kepada Tuhan dan keluargaku. Dan tentu saja, adanya tulisan ini akan membuat julur khusus untuk pengingatku, bahwa siapa dan apa yang akan menjadi tujuan hidupku. Kubebaskan diriku melakukan apa saja di usia mudaku, asal kuterus berusaha agar Tuhan dan keluargaku tetap menjadi prioritas, dan mereka Ridho dari setiap langkah yang akan aku jalani,  yang jika nantinya aku hilang arah, hanya kepada merekalah aku kembali. 

"Bekerjalah kamu untuk duniamu seakan akan kamu hidup selamanya, dan berkerjalah kamu untuk akhiratmu seakan akan kamu akan mati esok hari" 

Hai darah muda, keep dunia at your hand, and keep your Iman at your heart :)

Komentar